Senin, 18 Januari 2010

SABDA JAYA BAYA

SABDA PRABU JAYABAYA: “SAATNYA BERTINDAK TANPA RASA TAKUT DAN RAIHLAH KEMENANGAN”.
Jangka Jayabaya (orang banyak mengatakan sebagai ramalan Jaya Baya) masih terus ada, masih terus hadir dan hidup di negeri kita ini. Entah kemudian ia mempengaruhi hidup kita, keluarga kita, kampung kita atau mengaruhi wilayah psikologi dan ideologi dalam hal kualitas dan kuantitas yang lebih dalam dan lebih luas. Tapi Jangka Jayabaya tetap ada dan akan terus ada. Mengutip dari pidato Putra fajar Soekarno Sang Proklamator Indonesia pada Pidato Pembelaan beliau didepan Sidang Pengadilan Kolonial Belanda di Bandung pada tahun 1930, “….apakah sebabnya Sabda Prabu Jayabaya sampai hari ini masih terus menyalakan harapan rakyat?.....”.
“….tak lain tak bukan ialah karena hati rakyat yang menangis itu, tak henti hentinya, tak habis habisnya menunggu-nunggu atau mengharap-harapkan datangnya pertolongan, sebagaimana orang yang berada dalam kegelapan tak henti-hentinya pula saban jam, saban menit, saban detik, menunggu-nunggu, mengharap-harap: kapan, kapankah matahari terbit?.”.
Sabda Prabu Jayabaya yang dimaksud oleh Soekarno adalah sesuatu yang bisa menjadi penyelesaian, menjadi solusi, menjadi matahari terbit yang dapat membuat hidup ini menjadi tentram, damai dan sejahtera.
Jangka Jayabaya terdiri dari tiga kata, yaitu Jangka yang bukan berarti “ramalan”, tapi berarti tempo, time atau “waktu”. Sementara Jaya dapat berarti “kemenangan”. Dan Baya (atau Abhaya) dapat berart “takut”. Jadi, Jayabaya bisa berarti “kemenangan akan rasa takut”.
Jangka Jayabaya-Inilah saatnya ketika ia yang telah melampaui rasa takut keluar sebagai Pemenang. Inilah saatnya, kini-saat ini yang berarti “this very moment”. Tidak di masa lalu tidak di masa depan, tapi di masa kini.
Dalam Jangka Jayabaya memaktubkan tanda-tanda zaman yang ditulis dalam bahasa Jawa:
1. Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran (Besok ketika ada kereta tanpa kuda)
Kereta adalah pancaindra kita dan kuda adalah kesadaran kita. Keadaan dimana pancaindra kita sudah merajalela, dan hidup dikuasai oleh kesadaran yang rendah atau bahkan sudah hilang.

2. Tanah Jawa kalungan wesi (Berkalung besi)
Kita terbelenggu oleh ulah kita sendiri, dan terlilit utang karena keserakahan dan ketidakmampuan kita untuk mengendalikan diri.

3. Prahu mlaku ing dhuwur awang awang (Perahu berlayar di angkasa)
Manusia sudah meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang semestinya, meninggalkan habitat alamiahnya. Segala sesuatu telah kehilangan ciri kodratinya.

4. Kali ilang kedhunge (Sungai kehilangan lubuknya)
Lubuk yang menjadi bagian terdalam dari sungai tidak ada lagi. Lubuk yang menjadi tempat hidup dan bersarangnya ikan-ikan. Sungai kehilangan “kedhunge” atau lubuknya, sungai