Adalah sebuah cerita di suatu kampung. Anak itu bernama Mustafa atau lengkapnya Al Mustafa. Kampung itu dulunya adalah wilayah transmigrasi jaman kolonial Belanda. Mustafa kecil berangkat ke gereja bersama mamaknya dan kakak-kakaknya, sesampainya di gereja mungil itu ia masuk dan duduk bersama di deretan anak-anak yang lain. Dia duduk tenang di samping kakaknya, "selama dalam ibadah kamu duduk manis, gak boleh ribut, gak boleh nakal", itu pesan mamak kepadanya. Kemudian bapak Pendeta naik ke mimbar dan berkhotbah, sesekali beliau membaca buku yang ada ditangannya, alkitab. Setelah bapak pendeta selesai, kemudian salah seorang dari jemaat yang hadir berdiri dan mengambil setangkai kayu yang di ujungnya ada tergantung sebuah kain hitam seperti tas kecil. "keluarkan uangmu, nanti kalau kantong derma itu sampai di sini, kau masukkan uangnya", suruh kakaknya kepada Mustafa. Ohhh... itu namanya kantong derma. Pada saat lagu terakhir Mustafa hanya bengong melihat anak-anak yang lain ikut menyanyikan lagu itu di pandu oleh bapak Pendeta yang tadi memberi khotbah. Mustafa kecil tidak menghapal syairnya, hanya satu kalimat yang sering diulang yang dia ikuti dengan semangat "Hale luya!", itu saja. Hari itu hari minggu tanggal 25 Desember, ternyata di luar gereja hujan begitu deras. "Memang sekarang-sekarang ini, hampir setiap hari hujan turun", pikir Mustafa. Pintu air yang di depan gereja airnya meluap-luap. Biasanya kalau pulang sekolah, Mustafa singgah sebentar nonton orang-orang yang mandi di pintu air itu. Semakin airnya deras, semakin asyik mereka terjun ke dalamnya. Mustafa pun senang melihat mereka tertawa-tertawa gembira.
Lima tahun kemudian,..."Mus...tunggu", teriak temannya. "aku cari sabut kelapa dulu untuk oborku", sambung temannya. Mustafa hanya diam saja menunggu, sambil sesekali memperbaiki letak buku yang ada di tangannya. "Kamu bawa obor, Mus?", tanya teman yang datang menghampirinya membawa obor dari bambu yang sumbunya dari sabut kelapa itu. "Aku bawa obor dari lilin(bunga rumput sejenis ilalang yang biasannya dipakai untuk obor)saja, tadi aku ambil di rawa sebelum pulang gembala", jawab Mustafa. Dua anak itu memakai sarung dan di kepalanya ada peci hitam, ditangan sebelah kirinya memegang obor lilin dan tangan kanannya memegang buku pelajaran mengaji dan begitu juga dengan temannya. Memang, sekarang Mustafa pergi ngaji di langgar. Dia tidak lagi pergi ke gereja. Semenjak selesai ulangan untuk kenaikan kelas ke kelas lima itu. Waktu itu, di kelas Mustafa sedang berlangsung ulangan agama. Begitu waktu mengisi jawaban hampir selesai, salah satu temannya bertanya, "Mus,...yang nomor 2 bagian B, jawabannya apa?", tanya temannya sambil berbisik. Kemudian Mustafa melihat soal nomor 2 bagian B, pertanyaannya adalah "Apakah nama Kitab Suci agama Kristen?". Akhirnya, dengan melihat ke bapak guru pengawas terlebih dulu,"aman....!",pikir Mustafa. "Alkitab!!!", Mustafa membisikkan jawabannya kepada temannya. Jawaban itu salah, dan dia mendapat ejekkan dari teman-temannya. Mustafa pergi ngaji dan tidak ke gereja lagi sejak Pakdenya, kakak ipar bapaknya yang memberinya songkok haji sebagai oleh-oleh sepulang dari menunaikan ibadah haji di Mekkah. Sejak itu dia belajar mengeja dan menbaca Alquran, belajar sembahyang.
SELAMAT NATAL DAN TAHUN BARU BUAT MAMAKKU TERCINTA